Minggu, 30 Januari 2011

IMPLEMENTASI TEORI ANALISIS TRANSAKSIONAL DALAM PEMBELAJARAN



Oleh : Iswanto

            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku saat ini merupakan kurikulum yang membutuhkan kreativitas dan produktifitas guru. Kreativitas dan produktivitas guru dibutuhkan untuk menerjemahkan kurikulum agar pesan yang ada di dalamnya dapat diaksentuasikan bagi kepentingan peserta didik. Selain itu,  dibutuhkan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif agar pesan-pesan kurikulum dapat diterima dan mampu mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku peserta didik. Oleh karena itu diperlukan sebuah upaya agar pesan kurikulum sampai pada peserta didik dengan efektif.
Ada sebuah teori yang merupakan kajian alternatif untuk memecahkan persoalan tersebut, yaitu Teori Analisis Transaksional Transactional Analysis Theory (TAT). TAT merupakan karya Eric Berne (1964) yang ditulis dalam bukunya Games People Play. TAT ini sangat terkenal dan digunakan hampir di semua bidang ilmu-ilmu perilaku dan merupakan teori komunikasi antar pribadi yang mendasar. TAT ini akan mengurai secara sistematis proses pertukaran pesan yang bersifat timbal balik diantara pelaku komunikasi yang sebenarnya merupakan cerminan kepribadian seseorang. Lewat TAT akan diketahui hal-hal yang sesungguhnya terjadi dalam diri individu ketika berkomunikasi? Siapa-siapa yang terlibat dan pesan apa yang dipertukarkan? Bagaimana memahami, mengarahkan dan mengendalikan aspek-aspek yang terkait dengan komunikasi yang berlangsung?

Pendidikan adalah Proses Komunikasi
            Ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi karena dalam proses tersebut terlibat dua pihak yaitu guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan, sementara muatan kurikulumnya sebagai pesan. Komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan maupun langsung melalui media. Sebagai komunikator, guru dituntut untuk dapat melangsungkan proses komunikasi tersebut dengan efektif agar materi yang disajikan dapat mengubah sikap, pendapat, pengetahuaan maupun perilaku peserta didik. Guru harus berusaha membuat peserta didik bersedia menerima pelajaran sehingga mengerti dan mengetahui (informatif) juga bersedia menerima keyakinan, perbuatan atau kegiatan (persuasif).
            Proses pembelajaran di kelas merupakan kegiatan komunikasi yang efektif karena berlangsung secara tatap muka (face to face) sehingga kerangka acuan (frame of reference) diketahui oleh guru, sedangkan umpan baliknya (feed back) berlangsung seketika. Mengingat kelas merupakan kelompok belajar relatif kecil maka meskipun komunikasi antara guru dan peserta didik termasuk group communication, guru sewaktu-waktu dapat mengubah menjadi komunikasi antar persona sehingga terjadilah komunikasi dua arah atau dialog dimana peserta didik dapat menjadi komunikator atau komunikan, demikian juga guru yang mengajar.


Sikap Dasar Manusia
            Dalam berinteraksi, setiap manusia harus memperhatikan berbagai sikap yang ada dalam setiap diri manusia. Dengan memahami berbagai sikap tersebut, masing-masing pihak dapat menyesuaikan diri sehingga interaksi akan berhasil sesuai dengan rencana. Sikap merupakan semua tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan, yang manifestasinya dapat dilihat atau diamati. Cara berbicara, cara berdiri, cara duduk, cara berjalan, ekspresi, kata-kata atau kalimat yang dipergunakan bila seseorang melakukan hubungan adalah beberapa contoh.
            Menurut Eric Berne dalam setiap diri manusia terdapat tiga macam sikap dasar (status ego). 1) Status ego orang tua (parent extropsychic). Status ego orang tua ada dalam setiap manusia semenjak ia masih kecil (kanak-kanak) yang merupakan hasil dari lingkungan, baik pengaruh orang tua, wali, guru dan orang tua lainnya. 2) Status ego orang dewasa (adult neopsychic). Status ego dewasa menunjukkan sikap yang tidak emosional dan tidak berprasangka namun lebih bersifat rasional (misalnya mempertimbangkan biaya dan manfaat). Status ego ini lebih bersifat komputer pemroses data yang mampu membuat keputusan berdasarkan data-data dari lingkungannya. Mengingat segala sesuatu berdasarkan fakta dan logis maka status ego ini lebih bersifat obyektif. 3) Status ego anak-anak (child acchiopsychic). Status ego anak-anak merupakan pembawaan sejak lahir yang menunjukkan kecenderungan murni dari seseorang (individu). Reaksi status ego ini hampir selalu berlawanan dengan staus ego orang tua. Ditandai dengan kecederungan untuk menunjukkan perasaan secara mudah sekali, tergesa-gesa, senang bermain dan kurang yakin akan dirinya sendiri.
            Tiga status ego di atas semua dimiliki oleh setiap peserta didik. Setiap saat akan muncul kembali, hanya status ego mana yang akan mendominasi. Suatu saat status ego anak-anak yang menonjol, namun pada kesempatan lain mungkin status ego dewasa yang menonjol atau  ego orang tua yang lebih menonjol. Semua itu tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi peserta didik saat itu. Hal seperti ini harus menjadi perhatian guru dalam berinteraksi dengan peserta didik di setiap kesempatan. Kegiatan pembelajaran akan efektif bila guru mampu menangkap status ego mana yang paling mendominasi peserta didiknya. Kesulitan guru, mungkin berada pada bagaimana dapat mengetahui status ego pada masing-masing peserta didik, karena disamping harus mengajar secara klasikal, guru juga ditutut untuk  berinteraksi personal. Bagaimana guru dapat mengetahui status ego peserta didik dan bagaimana memainkan peran ini?
            Untuk mengetahui status ego mana yang dominan dala diri peserta didik dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut. Pertama, dengan melihat tingkah lakunya, termasuk gaya badan, kata-kata maupun nada suaranya. Pada ego orang tua, gaya badanya bertopang dagu, bersilang kaki atau menuding telunjuk. Nada suaranya memerintah, menerangkan, mangadili, dengan kata-kata ”saudara bagus”, ”saya dukung” dan sebagainya. Pada ego dewasa, gaya badannya mendengarkan aktif dan kontak mata, nada suaranya mencari data, tenang mempercayai, kata-katanya, ”ya, saya mengerti...”, ”bagaimana pendapat saudara...”. Pada status ego anak-anak, gaya badannya mengangkat bahu, mencibirkan bibir, mengedip mata, dengan nada suara, mengeluh, menggerutu, memprotes, sedang kata-katanya, ”bukan salah saya...”, andaikan saya...”, ”kalau tidak...”
Kedua, mengamati bagaimana sikapnya bergaul dengan orang lain. Apabila orang lain diperlakukan sebagai anak kecil maka status ego yang menonjol mungkin orang tua atau dewasa. Ketiga, mengingat kembali keadaan ketika masih kecil. Apabila gaya badannya, ekspresi maupun nada suara ketika berbicara seperti anak kecil maka sikap anak-anak yang menonjol. Keempat, mengecek perasaan diri sendiri. Perasaan yang timbul pada waktu, tempat, dan keadaan tertentu dapat disimpulkan apakah status ego yang menonjol parent, adult atau child.

Implementasi TAT
            Teori Analisis Transaksional berkembang dari anggapan bahwa komunikasi antarmanusia adalah suatu transaksi. TAT menekankan pada aspek dasar psikologis dan komunikasi. Konsep ini menekankan bahwa setiap individu dapat berbicara dari eksistensi sikologis yang berbeda. Seperti terurai sebelumnya bahwa status ego terdiri dari, Status ego orang tua (O), status ego dewasa (D) dan status ego anak-anak (A). Status ego yang dominan akan mempengaruhi seseorang bila berinteraksi dengan orang lain. Pada dasarnya transaksi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas akan terlihat bahwa antara kedua komponen yang berbeda yaitu guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan dan juga bisa sebaliknya tergantung metode dan variasi pembelajarannya.  Dalam TAT dikenal tiga macam bentuk transaksi yakni transaksi sejajar, silang dan berganda.
            Transaksi sejajar dapat terjadi bila pesan yang disampaikan dari status ego tertentu dan ditujukan pada status ego tertentu pula pada orang lain mendapat tanggapan dari status ego yang sama diarahkan pada status ego yang sama dari pengirim. Sebagai contoh bila terjadi transaksi antara guru yang status egonya orangtua ditujukan pada peserta didik yang berstatus ego anak-anak. Sedangkan tanggapannya ditujukan dari ego anak-anak ke orang tua. Transaksi silang terjadi bila jawaban yang diberikan oleh seseorang yang diajak bicara timbul dari status ego yang tidak sama dan atau diarahkan pada status ego yang berbeda dengan pengirim pesan. Biasanya bila terjadi transaksi ini pihak-pihak yang terlibat saling menahan diri, saling mengelak atau mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dalam transaksi ini dapat menimbulkan konflik antara komunikator dengan komunikan. Transaksi berganda terjadi bila terdapat arti atau pesan tersembunyi yang mungkin beda sekali dengan pesan yang diucapkan. Pesan yang disampaikan mempunyai arti ganda, namun arti yang sebenarnya justru terselubung dalam transaksi yang secara sosial lebih diterima.
            Berdasarkan ketiga bentuk transaksi tersebut, seorang guru harus berusaha agar transaksi dalam pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk itu guru harus benar-benar mampu menangkap status ego yang dominan pada peserta didiknya. Dalam pembelajaran klasikal, status ego yang harus diperhatikan adalah yang mayoritas paling dominan pada sebagian besar peserta didiknya di kelas. Namun disaat guru melayani perindividu maka status ego individu tersebut yang harus ditangkap agar komunikasinya efektif.
            Berikut akan diberikan beberapa ilustrasi tentang beberapa bentuk transaksi yang masing-masing terdiri dari dua pernyataan dan diagramnya. Diagram digunakan untuk menunjukkan bentuk transaksi dengan membubuhkan tanda panah untuk memperlihatkan arah dan status ego dari sender (guru) dan penerima pesan (siswa).
Contoh 1
Guru    : Mari, saya tunjukkan bagaimana cara mengerjakan soal itu.
Siswa   : Terima kasih, saya memang membutuhkan pertolongan bapak.
Situasi tersebut menggambarkan bahwa status ego yang dominan pada siswa saat itu adalah anak-anak sehingga guru memberikan pernyataan dari suatu ego orang tua kepada status ego anak. Pernyataan tersebut mendapat tanggapan yang efektif dengan transaksi sejajar yaitu dari status ego anak kepada status ego orang tua. Transaksi tersebut bila digambar seperti  berikut.

    Guru

   Siswa



      O

      O


      D

      D



      A
       
      A




Contoh 2
Guru    : Dimana laporan itu?
Siswa   : Apakah bapak menghilangkannya? Sudah saya serahkan di meja bapak kemarin.

Pertanyaan guru adalah pertanyaan yang disampaikan dari ego dewasa ditujukan pada ego dewasa. Sedangkan jawaban siswa justru dari ego orangtua ditujukan pada ego anak-anak, sehingga transaksi yang terjadi silang. Ini disebabkan guru tidak mampu menangkap atau membaca status ego yang dominan pada siswa saat itu. Status ego siswa saat itu berada pada orang tua namun mendapat perlakuan sebagai status ego dewasa sehingga komunikasinya tidak efektif. Keadaan tersebut bila diperlihatkan dalam diagram sebagai berikut.

Guru

Siswa



      O

      O


      D

      D




      A

      A




Akibat dari transaksi silang tersebut guru dan siswa akan saling menarik diri bahkan saling mengelak atau akan mengalihkan ke masalah lain sehingga pertama tidak akan berlanjut.

Contoh 3
Guru    : “Pintu selalu terbuka”, silahkan datang setiap waktu. Saya senang sekali    
               membicarakan persoalan kalian dan mencari jalan keluarnya.

Siswa menginterpretasikan :
              ”Jangan datang ke sini dengan persoalan-persoalan, cari pemecahannya sendiri”,
               Untuk apa kalian disekolahkan?
            Transaksi tersebut adalah transaksi berganda atau transaksi dengan agenda tersembunyi sehingga pesan yang disampaikan guru tidak dapat diinterpretasikan siswa dengan benar. Bahkan interpretasi siswa berbeda sekali dengan yang diharapkan guru. Situasi transaksi tersebut tergambar dalam diagram berikut.
Guru

Siswa



      O

      O


      D

      D




      A

      A




            Mencermati ketiga bentuk transaksi di atas, dalam melaksanakan pembelajaran guru harus benar-benar mampu membaca kondisi status ego dari peserta didiknya. Apabila transaksi yang pertama tidak efektif (silang atau berganda), maka sesegera mungkin guru merubah bentuk transaksinya. Dari transaksi pertama yang belum efektif, guru langsung menganalisa status ego peserta didik berdasarkan feed back dengan seketika sehingga transaksi berikutnya berlangsung efektif. Agar pesan kurikulum diterima peserta didik dengan efektif maka transaksi yang berlangsung harus sejajar untuk itu diperlukan beberapa hal sebagai berikut. 1) meningkatkan pengetahuan tentang proses komunikasi 2) meningkatkan kemampuan guru dalam memahami, mengelola dan mengendalikan stus ego pada peserta didiknya 3) menciptakan kondisi pembelajaran kreatif, inovatif yang memudahkan untuk memahami status ego peserta didik. 4) melangsungkan komunikasi dengan transaksi sejajar sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar